Abu Zakaria Yahya



    Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin Abdullah bin Manshur ad-Dailami adalah seorang ahli bahasa. Nama beliau dinisbatkan pada Ad-Dailam adalah sebuah daerah yang terdapat di Persia. Al-Farra’ juga dikenal dengan Yahya bin al-Aqtha’, al-Aqha’ adalah ayah beliau, Ziyad adalah salah seorang sahabat yang ikut serta dalam peperangan yang dipimpin oleh Husein bin Ali Radhiyallahu ‘Anhu, digelari dengan  al-Aqtha'
(si buntung  tangan) karena tangan beliau terkena pedang pada waktu perang tersebut. Namun menurut Khallikan, yang digelari dengan al-Aqtha’ tersebut adalah kakeknya, karena kalau dilihat dari tahun kelahiran al-Farra’ pada tahun 144 H, sedangkan peperangan Husein terjadi pada tahun 61 H, jelas terlihat ada jarak 84 tahun antara peperangan tersebut dengan kelahiran al-Farra’.
            Nenek moyang beliau masuk Islam pada waktu awal islam masuk ke Ad-Dailam dan Persia. Ini ditunjukkan oleh nama ayahnya yang menggunakan telah bahasa Arab. Sedangkan ibunya adalah bibi Muhammad bin Hasan, sahabat Abu Hanifah.
            Kata “al-Farra’” merupakan sebuah gelar yang diberikan kepada  Yahya bin Ziyad. Digelari Al-Farra’ karena kepiawaian beliau dalam berbicara, sangat baik dalam mensistematisasikan persoalan, senada dengan pendapat Abu Fadhl al-Falaki bahwa a-Farra’ menunjukkan pada orang yang piawai dalam berbicara. Menurut pendapat lain, gelar al-Farra’ ini diberikan kepada beliau karena kepintaran beliau dalam memecahkan permasalahan, dan mampu mengalahkan lawan bicara dengan persoalan-persolan yang ditujukan kepada beliau.
            Al-Farra’ lahir di Kufah pada tahun 144 H pada masa pemerintahan Abu Ja’far al-Manshur. Kufah pada waktu itu adalah salah satu dari dua kota menjadi kota pelajar pada masa itu, dimana berbagai ilmu pengetahuan berkembang pesat dan di kota banyak ditemui para ulama terkenal. Kufah merupakan kota pilihan al-Farra’ untuk menuntut ilmu, dapat kita lihat bahwa sebahagian besar guru beliau berasal dari Kuffah, di antaranya: Qais bin Rabi’, Mandal bin ‘Ali, Abu Bakar bin ‘Ayyash dan al-Kissa’i, serta Sufyan bin ‘Uyainah. Menurut satu pendapat bahwa beliau juga berguru kepada Yunus bin Habib al-Bishri yang mempelajari kitab nahwu Sibawaih yang sangat fenomenal sampai saat sekarang ini. Selain itu Kota kelahiran al-Farra ini merupakan pusat studi filsafat, lexiografi dan gramatikal sebagai perangkat penstabilan bahasa Arab.
            Al-Farra’ mempunyai kekuatan hafalan sangat kuat terbukti  bahwa setiap beliau dalam transfer ilmu dari sang guru beliau tidak pernah mencatat, semuanya dihapalkan. Hannad bin Sirri mengatakan bahwa selama beliau satu seperjuangan dengan al-Farra’ dalam menuntut  ilmu tidak pernah sekalipun al-Farra’ menulis apa yang beliau dengar, hanya saja apabila mendengarkan suatu pernyataan yang berhubungan dengan tafsir dan bahasa, maka beliau akan berkata kepada sang guru: “Ulangilah sekali lagi untukku, wahai Guru.” Menurut Hannad, al-Farra’ menghapalkan setiap hal yang beliau butuhkan.
            Kekuatan hapalan beliau tidak dibuktikan dengan pernyataan dari teman seperjuangan beliau saja, bahkan selama hidup terbukti bahwa setiap mendiktekan setiap kitab-kitab  beliau tanpa menggunakan naskah, semuanya dengan menggunakan metode hapalan.
            Kepiawaian al-Farra’ berbicara dan bertukar pendapat -terutama dalam bidang bahasa-  menjadikan beliau berkedudukan  yang tinggi yang tiada tandingnya. Beliau dikenal sebagai tokoh besar Kuffah setelah Al-Kisa’i. Tsa’lab berkomentar: ”Kalau saja tidak ada al-Farra’ bahasa arab tidak akan dapat berkembang sampai saat sekarang ini, karena beliaulah yang meringkas dan menyusunnya sehingga bahasa Arab akan lenyap. Hai ini terjadi karena banyaknya pertentangan dan klaim dari orang-orang yang menginginkannya, sedangkan masyarakat pada waktu itu menggunakan bahasa Arab sesuai dengan keintelektualan mereka masing-masing sehingga mudah menyebabkan eksistensi bahasa Arab semakin pudar.
            Pertemuan al-Farra’ dengan khalifah Al-Ma’mun melalui perantaraan Tsumamah bin al-‘Asyras al-Mu’tazili. Pada satu kesempatan Tsumamah menguji al-Farra dalam beberapa bidang keilmuan, dia berkata: ”Aku melihat al-Farra’ adalah seorang penyair yang sangat besar, lalu aku duduk dan mengajak beliau berdiskusi dalam masalah bahasa Arab. Setelah perdebatan tersebut aku mengetahui bahwa beliau adalah pakar sastra arab dan juga seorang ahli nahwu. Kemudian aku berdiskusi mengenai fiqh, ternyata beliau adalah pakarnya dan mengetahui perdebatan-perdebatan di antara ulama fiqh. Setelah itu, aku berdiskusi dengan beliau masalah ilmu nujum, kedokteran, sejarah Arab, dan sastra-sastra Arab, ternyata beliau adalah pakarnya.” 
            Setelah melakukan diskusi tersebut dan menyaksikan kecerdasan al-Farra’ dalam berbagai bidang ilmu. Kemudian Tsumamah memberitahu Khalifah Makmun, kemudian beliau menuyusuh al-Farra’ untuk datang ke istana Al-Ma’mun. Di Baghdad, al-Farra’ memperoleh kedudukan yang tinggi yang diberikan oleh Khalifah. Para ahli sejarah mengatakan bahwa khalifah al-Ma’mun menyuruhnya untuk membuat sebuah perkumpulan yang mengkaji tentang dasar-dasar nahwu. Bahkan, Khalifah pun mempercayakan pendidikan kedua anaknya kepada al-Farra’, selain itu, al-Farra’ diminta untuk mengarang mengenai kaidah-kaidah dalam bahasa Arab dan menyusun syair untuk Khalifah.
            Menurut Ibnu Nadim: “Al-Farra’ menghabiskan sebahagian besar hidupnya di Baghdad mulai dari masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun sampai pada kekhalifahan Harun Ar-Rasyid, hanya saja setiap akhir tahun beliau berkunjung ke Kuffah dan menetap selama 40 hari bersama keluarga dan memberikan harta untuk keluarga beliau, lalu kemudian beliau kembali ke Baghdad.”
            Beliau wafat dalam perjalanan ke Mekkah pada tahun 207 H dalam usia 63 tahun, menurut Ansab as-Sam’ani, beliau meninggal pada 209 H. Namun, dengan wafatnya beliau bukan berarti beliau telah kehilangan eksistensi dalam ranah keilmuan Islam terutama dalam bidang bahasa, dalam perjalanan hidup al-Farra’ tercatat ada 17 buku yang menjadi karya al-Farra’ termasuk kitab “Tafsir Ma’anil Qur’an”.
a.        Alatul Kitab
b.        Al-Ayyamu wa Al-layali
c.         Al-Baha’
d.        Al-Jam’u wa Tanbih fi al-Qur’an
e.         Al-Hudud, berisi tentang kaidah bahasa arab
f.          Huruf al-Mu’jam
g.        Al-Fakhir fi al-Amtsal
h.        Fi’il wa Af’al
i.          Al-Lughat
j.          Al-Mudzakkar wa al-Muannats
k.         Al-Musykil ash-Shaghir
l.          Al-Musykil al-Kabir
m.      Al-Mashadir fi al-Qur’an
n.        Ma’anil Qur’an
o.        Al-Maqshur wa al-Mamdud
p.        Al-Nawadir
q.        Al-Waqf wa al-Ibtida’

Dawn, satelit NASA akan mengorbit planet Ceres



 

Konsep Artis pesawat ruang angkasa Dawn NASA dan asteroid raksasa Vesta ini gambar pesawat ruang angkasa Dawn NASA dan asteroid Vesta raksasa adalah konsep seorang artis.Dawn tiba di Vesta pada 15 Juli 2011 PDT (16 Juli 2011 WIB) dan diatur untuk berangkat pada 4 September 2012 PDT (5 September 2012 EDT). Gambar kredit: NASA / JPL-Caltech> Lebih besar pandanganPASADENA, California - pesawat ruang angkasa Dawn NASA berada di trek untuk menjadi probe pertama yang mengorbit dan mempelajari dua tujuan sistem surya jauh, untuk membantu para ilmuwan menjawab pertanyaan tentang pembentukan tata surya kita. Satelit ini dijadwalkan untuk meninggalkan asteroid Vesta raksasa pada 4 September PDT (5 September WIB) untuk memulai dua-dan-a-setengah-tahun perjalanannya ke planet kerdil Ceres.Dawn mulai pengembaraan nya 3-miliar-mil (5-miliar kilometer) untuk mengeksplorasi dua benda yang paling besar di sabuk asteroid utama di tahun 2007. Dawn tiba di Vesta pada bulan Juli 2011 dan akan mencapai Ceres pada tahun 2015 awal. Target Dawn merupakan dua ikon dari sabuk asteroid yang telah menyaksikan banyak sejarah tata surya kita.Untuk membuat pelarian mereka dari Vesta, pesawat ruang angkasa akan pergi spiral selembut itu tiba, menggunakan, khusus hiper-efisien sistem yang disebut ion propulsi. Sistem propulsi ion Dawn menggunakan listrik untuk mengionisasi xenon untuk menghasilkan dorong. The 12-inch-lebar pendorong ion memberikan daya yang lebih kecil daripada mesin konvensional, namun dapat mempertahankan dorong selama berbulan-bulan pada suatu waktu."Thrust bergerak, dan kami sekarang naik jauh dari Vesta atas pilar biru-hijau ion xenon," kata Marc Rayman, kepala insinyur Dawn dan direktur misi, di NASA Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, California "Kami merasa agak sendu tentang menyimpulkan eksplorasi fantastis produktif dan menarik dari Vesta, tapi sekarang memiliki pemandangan kita set pada planet kerdil Ceres.Orbit Dawn disediakan close-up dilihat dari Vesta, mengungkapkan detail yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang asteroid raksasa. Misi mengungkapkan bahwa Vesta sepenuhnya meleleh di masa lalu, membentuk tubuh berlapis dengan inti besi.Pesawat ruang angkasa juga mengungkapkan jaringan parut dari titanic tabrakan Vesta menderita di belahan bumi selatan, hidup bukan hanya satu tapi dua dampak kolosal dalam dua miliar tahun terakhir. Tanpa Dawn, para ilmuwan tidak akan tahu tentang palung dramatis diukir sekitar Vesta, yang merupakan riak dari dua dampak kutub selatan."Kami pergi ke Vesta untuk mengisi kekosongan pengetahuan kita tentang sejarah awal tata surya kita," kata Christopher Russell, peneliti utama Dawn, berbasis di University of California Los Angeles (UCLA). "Fajar telah mengisi halaman tersebut, dan lebih, mengungkapkan kepada kita betapa istimewanya Vesta adalah sebagai korban dari hari-hari awal tata surya kita sekarang dapat mengatakan dengan pasti bahwa Vesta menyerupai planet kecil lebih dekat daripada asteroid yang khas.."Misi ke Vesta dan Ceres dikelola oleh Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California, untuk Direktorat Misi Sains badan di Washington. Fajar adalah sebuah proyek dari Program Discovery direktorat, yang dikelola oleh NASA Marshall Space Flight Center di Huntsville, AlabamaUCLA bertanggung jawab untuk ilmu misi Dawn keseluruhan. Orbital Sciences Corp of Dulles, Va, dirancang dan dibangun pesawat ruang angkasa. Pusat Aerospace Jerman, Max Planck Institute for Solar System Riset, Badan Antariksa Italia dan Institut Astrofisika Nasional Italia adalah bagian dari tim misi. California Institute of Technology di Pasadena mengelola JPL untuk NASA.Untuk informasi lebih lanjut tentang Dawn, kunjungi: situs NASA ini.

Kisah Abu Jandal bin Suhail


Abu Jandal bin Suhail RA

Ketika Abu Jandal bin Suhail bin Amr memeluk Islam, kaum keluarganya membelenggu dan menyiksanya sehingga ia tidak bisa menyusul Nabi SAW ke Madinah sebagaimana orang Islam lainnya. Suatu saat ia berhasil meloloskan diri melalui bagian bawah kotaMakkah, dan menemui orang-orang Islam yang saat itu sedang berada di Hudaibiyah, kedua tangannya dalam keadaan terbelenggu.
            Saat itu utusan kaum Quraisy, Suhail bin Amr, yang tidak lain adalah ayah Abu Jandal sendiri, sedang mengadakan pembicaraan dengan Nabi SAW tentang butir-butir Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu butir tersebut adalah : Jika seorang lelaki dari Makkah datang kepadamu (Nabi SAW), walaupun ia telah memeluk Islam, maka engkau harus mengembalikannya kepada kami (Kaum Quraisy). 
Ketika Suhail melihat kehadiran Abu Jandal, Suhail berkata kepada Nabi SAW, "Hai Muhammad, dia ini adalah orang pertama yang harus engkau kembalikan kepada kami."
Nabi SAW sebenarnya berusaha mempertahankan Abu Jandal dengan dalih perjanjian tersebut belum sampai tahap disepakati, tetapi masih dalam perundingan. Tetapi Suhail tetap berkeras, sehingga akhirnya Nabi SAW merelakan Abu Jandal dibawa kembali ke Makkah. Abu Jandal sempat berkata, "Hai orang-orang Islam, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrik, sedangkan aku telah datang kepada kalian sebagai muslim? Apakah kalian tidak melihat apa yang kuderita?"
Tentu saja kaum muslimin sangat tersentuh dengan keadaan tsb. tetapi apa yang telah diputuskan oleh Nabi SAW, itulah hukum yang harus ditaati. Hanya Umar bin Khaththab yang sempat mempertanyakan kepada Nabi SAW, tetapi ia pun akhirnya bisa menerimanya setelah dijelaskan Abu Bakar RA. Nabi SAW hanya bisa menasehati Abu Jandal untuk bersabar.
Berlalulah waktu, seorang muslim lagi, yakni Abu Bashir, lepas dari kungkungan dan siksaan kamu Quraisy dan berlari ke Madinah. Kaum Quraisy mengirim dua utusan ke Madinah untuk menjemput Abu Bashir, dan tidak bisa tidak, karena masih terikat Perjanjian Hudaibiyah, Nabi SAW SAW harus merelakan Abu Bashir dibawa kembali ke Makkah.
Dalam perjalanan tersebut, dengan suatu muslihat Abu Bashir berhasil membunuh salah satu utusan, dan utusan lainnya berhasil lari      ke Madinah meminta perlindungan Nabi SAW. Ketika Abu Bashir menghadap Nabi SAW di Madinah, beliau menjelaskan tentang Perjanjian Hudaibiyah dan beliau tidak mungkin mempertahankannya di Madinah. Abu Bashir bisa memahami kesulitan yang dihadapi Nabi SAW, karena itu ia lari ke pesisir menyembunyikan diri.
Beberapa waktu kemudian Abu Jandal juga berhasil lolos dari kaum Quraisy, dan ia mengikuti jejak Abu Bashir menyembunyikan diri di pesisir. Begitulah, setiap ada orang muslim yang lolos dari kaum Quraisy, mereka bergabung dengan Abu Bashir dan Abu Jandal hingga mencapai jumlah satu isbahah (10 - 40 orang). Kelompok yang dipimpin oleh Abu Bashir dan Abu Jandal ini selalu menghadang dan membunuh kafilah dagang Quraiys yang menuju Syam, dan merampas hartanya.
            Keadaan itu ternyata menjadi “bumerang” bagi kaum Quraisy, yang akhirnya memaksa orang-orang Quraisy menemui Nabi SAW agar kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ditarik ke Madinah dan tidak mengganggu kafilah-kafilah dagang orang Quraisy ke Syam. Itu artinya mereka sendiri yang berinisiatif membatalkan Perjanjian Hudaibiyah. Dan kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ini akhirnya bergabung dengan Nabi SAW di Madinah. 

cerdas tanpa batas

Curious Science . Diberdayakan oleh Blogger.
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Thanks to Business Opportunity, Highest CD Rates and Registry Software